Senin, 14 Mei 2012

Jejak-jejak Naga Pembawa Islam di Blambangan

Jejak-jejak Naga Pembawa Islam di Blambangan
Oleh: Taufiq Wr. Hidayat

Ada yang menarik perlu kita pahami, bahwa kehidupan kita sebagai bangsa dilatarbelakangi sejarah pluralisme yang kuat. Dan sejarah Banyuwangi menyimpan kisah pluralisme dan pengalaman keberagamaan yang dewasa, menggambarkan ketinggian budi, toleran, dan kebersamaan. Ini terlihat dari proses masuknya Islam di Blambangan (Banyuwangi) yang disebarkan oleh orang-orang peranakan China/Tionghoa.

Masuknya Islam di Indonesia menyebutkan, pada abad ke-12 dan ke-13 Islam dibawa oleh pedagang Gujarat dan Arab. Islamisasi mengalami akselerasi di abad ke-15 dan ke-16. Namun, dalam pembahasan sejarah nusantara, ternyata Islam disebarkan lebih elegan dan kultural di abad ke-7 oleh orang-orang Tionghoa, jauh sebelum kedatangan orang-orang Gujarat dan Arab. Para pembawa Islam berbangsa China itu berkarakteristik sufi, bergabung dengan rakyat kecil, berkelompok dagang dan mengerjakan kerajinan. Orang-orang China pembawa Islam di abad ke-7 mengajarkan Theosofi Sinkretik. Dalam 1492 (Quatroze Neuf-Deux) dijelaskan, Angkatan Laut China adalah kekuatan besar. Di abad ke-13 sampai ke-16, Angkatan Laut Tiongkok ini ditundukkan perwira muslim, Laksamana Ma Chengho (Ma Zenghe), berasal Xin Kiang (Xinjiang), yang berekspedisi berkali-kali ke parairan nusantara. Angkatan Laut China muslim membantu Raden Wijaya (yang diduga peranakan China, dari marga Oey atau Wie) mendirikan Kerajaan Majapahit. Prabu Brawijaya V memiliki permaisuri, Kencana Wungu, selir bernama Putri Campa. Menurut sumber lisan, Prabu Brawijaya V beragama Islam sebab isteri selirnya yang berbangsa China berasal dari Cambodia, pun beragama Islam. Putri Campa, ibu dari Raden Fatah, yang bernama asli Tan Eng Hoat, pendiri kesultanan Demak. Menantu Putri Campa pun muslim, Abdul Qodir Jaelani yang bernama asli Tan Kim Han.

Di masa Tawangalun, kita mengenal nama Ki Bagus Wongsokaryo (diduga seorang muslim), penasehat spiritual dari Mas Tawangalun, terkenal dengan jejuluk Ki Buyut Cungking. Julukan itu disematkan kepada Ki Bagus Wongsokaryo sebagai penerjemah kerajaan dalam menjalin komunikasi dengan tamu-tamu China, karena hubungan kerajaan-kerajaan nusantara dengan negeri Tiongkok akrab di zaman dinasti Ming (1368-1643). Di depan Keraton Macan Putih terdapat tempat menerima tamu-tamu dari Cungking, China. Sehingga tempat itu kemudian disebut Cungking. Orang-orang setempat, karena tidak mengerti Bahasa Mandarin, mengartikan kata “cungking” dengan “kuncunge teng wingking”, yaitu orang-orang yang rambutnya digelung di belakang kepala sebagai kebiasaan bangsa Tiongkok masa lalu.

Dalam hal pemikiran, apalagi sejarah dan kajian-kajian, berbeda itu wajar. Menurut penulis, Tawangalun itu sudah Islam karena berdasar sumber lisan, beliau gemar membaca Suluk Sudarsih dan Lontar Yusup dengan huruf Arab-pegon, beliau juga persemakmuran Mataram Islam walau akhirnya beroposisi. Jika Tawangalun Hindu, tentu Mengwi sudah menguasai Macan Putih di masa Tawangalun. Tapi buktinya, Mengwi menguasai Macan Putih setelah Tawangalun mangkat. Apakah lantas keliru jika kita menduga kuat Mas Tawangalun sudah Islam? Kalau pendapat saya dianggap tidak akurat, pendapat sebaliknya tentu sama. Sebab belum ada penelitian secara tuntas dan mendalam terhadap hal ini, yang ada hanya sebatas membandingkan sumber-sumber tulisan, dan itu adalah ranah ahli dalam disiplin ilmu Filologi. Kita melakukan dugaan-dugaan, dan saya memilih sumber lisan sebab saya bukan sejarawan. Siapa saja bisa boleh punya versi dan saling “banting” argumen masing-masing untuk diuji di atas meja ilmiah-kritis. Di sini kita menemukan sikap toleransi yang tinggi, kendati Tawangalun diduga muslim, tapi beliau tidak lantas menjadikan Macan Putih sebagai kerajaan Islam, melainkan agama adalah wilayah pribadi dan tidak sebagai komoditas politik kekuasaan. Dan Macan Putih lebih dikenal sebagai kerajaan Hindu terakhir di Jawa.

Islamisasi di Blambangan (Banyuwangi) tidak terlepas dari keterkaitan proses Islamisasi di Jawa, utamanya di Jawa Timur yang berpusat di Surabaya dan Giri, Gresik. Sultan Samudera Pasai, Zainal Abidin Ba’iyah Syah (1349-1406) mengirim ulama ke Jawa, yaitu Maulana Malik Ibrahim ke Gresik (wafat 1419) dan Maulana Iskak atau Syeh Wali Lanang. Maulana Iskak ditugaskan oleh Sunan Ampel (Raden Rahmat, yang juga terkenal dengan nama Bong Swi Hoo) di Ampeldenta, Surabaya untuk membawa Islam ke Blambangan. Raden Rahmat atau Sunan Ampel adalah putra Makhdum Ibrahim, menantu Sultan Campa dan ipar Dwarawati. Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel itu cucu Haji Bong Tak Keng, seorang Tionghoa bermarga Hui muslim ber-mazhab Hanafi yang ditugaskan sebagai Kapten China di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu, menantu Haji Bong Tak Keng, ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga ditugaskan sebagai kapten China di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya, Bong Swi Hoo atau Sunan Ampel, sebagai kapten China di Jiaotung (Bangil). Islam yang dibawa dan diupayakan oleh orang-orang China itu mendapat tempat di hati rakyat, karena Islam disebarkan secara kultural dengan tidak mengutamakan aspek formal yang kaku, tapi lebih pada aspek hakikat ajaran dan keterbukaan Islam yang lentur terhadap nilai-nilai dari luar. Selain itu, orang-orang China mengamalkan kemampuan mereka dalam hal pengobatan. Sehingga tidaklah mengherankan jika Maulana Iskak (Ishaq) mampu menyembuhkan cucu Menak Sembuyu, penguasa Blambangan, yakni Putri Sekar Dadu (Sayu Atikah), yang mengalami sakit keras dan tidak ada satu pun tabib Jawa yang dapat menyembuhkannya.

Menurut cerita tutur, tidak lama setelah masa keruntuhan Kerajaan Macan Putih dengan rajanya yang berwibawa, Mas Tawangalun, Islam dibumikan di Blambangan oleh dua orang penyebar Islam yang kita kenal dengan nama Ki Tompo Wijoyo (Mbah Buyut Tompo) dan Ki Ishak (diduga sebagai kakak beradik). Ki Tompo Wijoyo bertempat di wilayah Benelan Lor, Kec. Rogojampi. Sekitar tahun 1600-an akhir, Ki Tompo Wijoyo mendirikan masjid pertama di Banyuwangi, yakni Masjid Gombolirang, terletak di Desa Gombolirang. Dugaan bahwa Masjid Gombolirang adalah masjid pertama di Banyuwangi dibuktikan dengan keterangan lisan penduduk setempat, bahwa waktu itu yang melakukan salat Jumat datang dari daerah jauh di Banyuwangi. Yang menarik, ternyata Ki Tompo Wijoyo adalah keturunan Tionghoa dari marga Wie, bernama asli Ki Tong Pho Wie. Jika dugaan ini benar, tentu adik/kakak dari Ki Tompo Wijoyo, Ki Ishak, pun keturunan China. Ki Tompo Wijoyo memiliki istri pertama yang juga orang China, bernama Lingcing, bertempat di pertigaan Rogojampi menuju Gambor, yang hingga hari ini penduduk setempat menyebut pertigaan itu dengan nama Pertelon Lingcing. Terdapat keterangan bahwa Ki Tompo Wijoyo dijadikan tokoh muslim berpengaruh oleh VOC, yakni sebagai amtenaar. Tidak mengherankan, sebab Belanda tidak mungkin mengangkat orang setempat (pribumi) sebagai amtenaar. Hal ini menunjukkan Ki Tompo Wijoyo memiliki status sosial-ekonomi yang tinggi di tengah-tengah masyarakat Blambangan. Belakangan setelah wafatnya Ki Tompo Wijoyo, anak-cucu keturunannya banyak yang menjabat lurah di daerah Rogojampi dan sekitarnya. Hingga keturunan dari Ki Ishak (adik/kakak Ki Tompo Wijoyo) yang bermarga Wie itu pernah menjabat bupati Banyuwangi, yakni Ir. H. Samsul Hadi. Apabila dugaan ini tak meleset, jelaslah peranan orang-orang Tionghoa sebagai bagian dari bangsa kita tidak diragukan. Itulah mungkin yang memunculkan ornamen Naga berkepala Gatot Kaca yang menghadap pada bunga Jaya Kusuma (bunga kebenaran, kemenangan dan kesejatian). Naga adalah simbol dalam kebudayaan China, Gatot Kaca adalah tokoh pewayangan dalam budaya Jawa. Ini adalah akulturasi kreatif antara budaya China-Jawa. Naga sebagai simbol kekuatan, keberanian dan kewibawaan. Gatot Kaca menyimbolkan kepemimpinan yang adil, penuh kasih sayang dan membela kaum lemah yang berpegang pada prinsip kebenaran dan kesejatian nilai. Dapat diartikan pula, pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mampu mengayomi dan berani membela si lemah, berpegang pada kebenaran dan keadilan. Dengan demikian tak terpungkiri lagi, nilai filosofis ornamen Naga berkepala Gatot Kaca adalah nilai yang terdapat dalam ajaran Islam tentang seorang pemimpin yang sejati. Menarik, bukan?

Memahami sejarah tidak sekadar pada ingatan tahun-tahun kejadian dan referensi belaka, melainkan mengerti sejarah sebagai proses. Inilah modal kita yang dapat kita jadikan landasan penting membumikan demokratisasi politik-kultural dan kelembagaan di Banyuwangi untuk bersama mencapai kesejahteraan masyarakat. Bertolak dari kenyataan sejarah ini, penting bagi kita menghayati dan mendalami sejarah demi mencapai kearifan kehidupan kita kini dan optimis menatap Banyuwangi di masa-masa mendatang. Kita bersatu sebagai suatu bangsa karena hidup di tempat yang sama, bukan dari keturunan atau agama dan kepercayaan kita. Inilah persamaan dan kebersamaan yang harus kita jaga dan kita bela dengan tulus, menghilangkan prasangka, memendam trauma psikis dan sentimen agama, ekonomi, ideolgis dan rasial di masa lalu yang malah akan menciptakan pembatas antarsesama bangsa. Sungguh penting dan menarik hal ini untuk kita renungkan bersama, bukan?

Banyuwangi, Pebruari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar