Jejak-jejak Naga Pembawa Islam di Blambangan
Oleh: Taufiq Wr. Hidayat
Ada
yang menarik perlu kita pahami, bahwa kehidupan kita sebagai bangsa
dilatarbelakangi sejarah pluralisme yang kuat. Dan sejarah Banyuwangi
menyimpan kisah pluralisme dan pengalaman keberagamaan yang dewasa,
menggambarkan ketinggian budi, toleran, dan kebersamaan. Ini terlihat
dari proses masuknya Islam di Blambangan (Banyuwangi) yang disebarkan
oleh orang-orang peranakan China/Tionghoa.
Masuknya Islam
di Indonesia menyebutkan, pada abad ke-12 dan ke-13 Islam dibawa oleh
pedagang Gujarat dan Arab. Islamisasi mengalami akselerasi di abad ke-15
dan ke-16. Namun, dalam pembahasan sejarah nusantara, ternyata Islam
disebarkan lebih elegan dan kultural di abad ke-7 oleh orang-orang
Tionghoa, jauh sebelum kedatangan orang-orang Gujarat dan Arab. Para
pembawa Islam berbangsa China itu berkarakteristik sufi, bergabung
dengan rakyat kecil, berkelompok dagang dan mengerjakan kerajinan.
Orang-orang China pembawa Islam di abad ke-7 mengajarkan Theosofi Sinkretik. Dalam 1492 (Quatroze Neuf-Deux)
dijelaskan, Angkatan Laut China adalah kekuatan besar. Di abad ke-13
sampai ke-16, Angkatan Laut Tiongkok ini ditundukkan perwira muslim,
Laksamana Ma Chengho (Ma Zenghe), berasal Xin Kiang (Xinjiang),
yang berekspedisi berkali-kali ke parairan nusantara. Angkatan Laut
China muslim membantu Raden Wijaya (yang diduga peranakan China, dari
marga Oey atau Wie) mendirikan Kerajaan Majapahit.
Prabu Brawijaya V memiliki permaisuri, Kencana Wungu, selir bernama
Putri Campa. Menurut sumber lisan, Prabu Brawijaya V beragama Islam
sebab isteri selirnya yang berbangsa China berasal dari Cambodia, pun
beragama Islam. Putri Campa, ibu dari Raden Fatah, yang bernama asli Tan
Eng Hoat, pendiri kesultanan Demak. Menantu Putri Campa pun muslim,
Abdul Qodir Jaelani yang bernama asli Tan Kim Han.
Di masa
Tawangalun, kita mengenal nama Ki Bagus Wongsokaryo (diduga seorang
muslim), penasehat spiritual dari Mas Tawangalun, terkenal dengan
jejuluk Ki Buyut Cungking. Julukan itu disematkan kepada Ki Bagus
Wongsokaryo sebagai penerjemah kerajaan dalam menjalin komunikasi dengan
tamu-tamu China, karena hubungan kerajaan-kerajaan nusantara dengan
negeri Tiongkok akrab di zaman dinasti Ming (1368-1643). Di depan
Keraton Macan Putih terdapat tempat menerima tamu-tamu dari Cungking,
China. Sehingga tempat itu kemudian disebut Cungking. Orang-orang
setempat, karena tidak mengerti Bahasa Mandarin, mengartikan kata
“cungking” dengan “kuncunge teng wingking”, yaitu orang-orang yang
rambutnya digelung di belakang kepala sebagai kebiasaan bangsa Tiongkok
masa lalu.
Dalam hal pemikiran, apalagi sejarah dan
kajian-kajian, berbeda itu wajar. Menurut penulis, Tawangalun itu sudah
Islam karena berdasar sumber lisan, beliau gemar membaca Suluk Sudarsih
dan Lontar Yusup dengan huruf Arab-pegon, beliau juga persemakmuran
Mataram Islam walau akhirnya beroposisi. Jika Tawangalun Hindu, tentu
Mengwi sudah menguasai Macan Putih di masa Tawangalun. Tapi buktinya,
Mengwi menguasai Macan Putih setelah Tawangalun mangkat. Apakah lantas
keliru jika kita menduga kuat Mas Tawangalun sudah Islam? Kalau pendapat
saya dianggap tidak akurat, pendapat sebaliknya tentu sama. Sebab belum
ada penelitian secara tuntas dan mendalam terhadap hal ini, yang ada
hanya sebatas membandingkan sumber-sumber tulisan, dan itu adalah ranah
ahli dalam disiplin ilmu Filologi. Kita melakukan dugaan-dugaan, dan
saya memilih sumber lisan sebab saya bukan sejarawan. Siapa saja bisa
boleh punya versi dan saling “banting” argumen masing-masing untuk diuji
di atas meja ilmiah-kritis. Di sini kita menemukan sikap toleransi yang
tinggi, kendati Tawangalun diduga muslim, tapi beliau tidak lantas
menjadikan Macan Putih sebagai kerajaan Islam, melainkan agama adalah
wilayah pribadi dan tidak sebagai komoditas politik kekuasaan. Dan Macan
Putih lebih dikenal sebagai kerajaan Hindu terakhir di Jawa.
Islamisasi
di Blambangan (Banyuwangi) tidak terlepas dari keterkaitan proses
Islamisasi di Jawa, utamanya di Jawa Timur yang berpusat di Surabaya dan
Giri, Gresik. Sultan Samudera Pasai, Zainal Abidin Ba’iyah Syah
(1349-1406) mengirim ulama ke Jawa, yaitu Maulana Malik Ibrahim ke
Gresik (wafat 1419) dan Maulana Iskak atau Syeh Wali Lanang. Maulana
Iskak ditugaskan oleh Sunan Ampel (Raden Rahmat, yang juga terkenal
dengan nama Bong Swi Hoo) di Ampeldenta, Surabaya untuk membawa Islam ke
Blambangan. Raden Rahmat atau Sunan Ampel adalah putra Makhdum Ibrahim,
menantu Sultan Campa dan ipar Dwarawati. Dalam catatan Kronik Cina dari
Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel itu cucu Haji Bong Tak Keng, seorang
Tionghoa bermarga Hui muslim ber-mazhab Hanafi yang ditugaskan
sebagai Kapten China di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma
Hong Fu, menantu Haji Bong Tak Keng, ditempatkan sebagai duta besar
Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga
ditugaskan sebagai kapten China di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian
menempatkan menantunya, Bong Swi Hoo atau Sunan Ampel, sebagai kapten
China di Jiaotung (Bangil). Islam yang dibawa dan diupayakan oleh
orang-orang China itu mendapat tempat di hati rakyat, karena Islam
disebarkan secara kultural dengan tidak mengutamakan aspek formal yang
kaku, tapi lebih pada aspek hakikat ajaran dan keterbukaan Islam yang
lentur terhadap nilai-nilai dari luar. Selain itu, orang-orang China
mengamalkan kemampuan mereka dalam hal pengobatan. Sehingga tidaklah
mengherankan jika Maulana Iskak (Ishaq) mampu menyembuhkan cucu Menak
Sembuyu, penguasa Blambangan, yakni Putri Sekar Dadu (Sayu Atikah), yang
mengalami sakit keras dan tidak ada satu pun tabib Jawa yang dapat
menyembuhkannya.
Menurut cerita tutur, tidak lama setelah
masa keruntuhan Kerajaan Macan Putih dengan rajanya yang berwibawa, Mas
Tawangalun, Islam dibumikan di Blambangan oleh dua orang penyebar Islam
yang kita kenal dengan nama Ki Tompo Wijoyo (Mbah Buyut Tompo) dan Ki
Ishak (diduga sebagai kakak beradik). Ki Tompo Wijoyo bertempat di
wilayah Benelan Lor, Kec. Rogojampi. Sekitar tahun 1600-an akhir, Ki
Tompo Wijoyo mendirikan masjid pertama di Banyuwangi, yakni Masjid
Gombolirang, terletak di Desa Gombolirang. Dugaan bahwa Masjid
Gombolirang adalah masjid pertama di Banyuwangi dibuktikan dengan
keterangan lisan penduduk setempat, bahwa waktu itu yang melakukan salat
Jumat datang dari daerah jauh di Banyuwangi. Yang menarik, ternyata Ki
Tompo Wijoyo adalah keturunan Tionghoa dari marga Wie, bernama
asli Ki Tong Pho Wie. Jika dugaan ini benar, tentu adik/kakak dari Ki
Tompo Wijoyo, Ki Ishak, pun keturunan China. Ki Tompo Wijoyo memiliki
istri pertama yang juga orang China, bernama Lingcing, bertempat di
pertigaan Rogojampi menuju Gambor, yang hingga hari ini penduduk
setempat menyebut pertigaan itu dengan nama Pertelon Lingcing. Terdapat
keterangan bahwa Ki Tompo Wijoyo dijadikan tokoh muslim berpengaruh oleh
VOC, yakni sebagai amtenaar. Tidak mengherankan, sebab Belanda tidak mungkin mengangkat orang setempat (pribumi) sebagai amtenaar.
Hal ini menunjukkan Ki Tompo Wijoyo memiliki status sosial-ekonomi yang
tinggi di tengah-tengah masyarakat Blambangan. Belakangan setelah
wafatnya Ki Tompo Wijoyo, anak-cucu keturunannya banyak yang menjabat
lurah di daerah Rogojampi dan sekitarnya. Hingga keturunan dari Ki Ishak
(adik/kakak Ki Tompo Wijoyo) yang bermarga Wie itu pernah
menjabat bupati Banyuwangi, yakni Ir. H. Samsul Hadi. Apabila dugaan ini
tak meleset, jelaslah peranan orang-orang Tionghoa sebagai bagian dari
bangsa kita tidak diragukan. Itulah mungkin yang memunculkan ornamen
Naga berkepala Gatot Kaca yang menghadap pada bunga Jaya Kusuma (bunga
kebenaran, kemenangan dan kesejatian). Naga adalah simbol dalam
kebudayaan China, Gatot Kaca adalah tokoh pewayangan dalam budaya Jawa.
Ini adalah akulturasi kreatif antara budaya China-Jawa. Naga sebagai
simbol kekuatan, keberanian dan kewibawaan. Gatot Kaca menyimbolkan
kepemimpinan yang adil, penuh kasih sayang dan membela kaum lemah yang
berpegang pada prinsip kebenaran dan kesejatian nilai. Dapat diartikan
pula, pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mampu mengayomi dan berani
membela si lemah, berpegang pada kebenaran dan keadilan. Dengan
demikian tak terpungkiri lagi, nilai filosofis ornamen Naga berkepala
Gatot Kaca adalah nilai yang terdapat dalam ajaran Islam tentang seorang
pemimpin yang sejati. Menarik, bukan?
Memahami sejarah
tidak sekadar pada ingatan tahun-tahun kejadian dan referensi belaka,
melainkan mengerti sejarah sebagai proses. Inilah modal kita yang dapat
kita jadikan landasan penting membumikan demokratisasi politik-kultural
dan kelembagaan di Banyuwangi untuk bersama mencapai kesejahteraan
masyarakat. Bertolak dari kenyataan sejarah ini, penting bagi kita
menghayati dan mendalami sejarah demi mencapai kearifan kehidupan kita
kini dan optimis menatap Banyuwangi di masa-masa mendatang. Kita bersatu
sebagai suatu bangsa karena hidup di tempat yang sama, bukan dari
keturunan atau agama dan kepercayaan kita. Inilah persamaan dan
kebersamaan yang harus kita jaga dan kita bela dengan tulus,
menghilangkan prasangka, memendam trauma psikis dan sentimen agama,
ekonomi, ideolgis dan rasial di masa lalu yang malah akan menciptakan
pembatas antarsesama bangsa. Sungguh penting dan menarik hal ini untuk
kita renungkan bersama, bukan?
Banyuwangi, Pebruari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar